SELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI

 

Sejarah Berkembangnya Percetakan di Indonesia-Dexa Printing Bandung

09 Mei 2020 13:23:00
mungkin di antara kalian masih belum tahu tentang sejarah percetakan di indonesia, pahami dulu artikel ini!

 

 

SEJARAH PERKEMBANGAN PERCETAKAN DI INDONESIA

 

 Sejarah Percetakan di Indonesia - Hadirnya percetakan di Indonesia berawal dari kedatangan Belanda (tiba tahun 1596) yang erat hubungannya dengan VOC. Pada Tahun 1624, misionaris Gereja Protestan Belanda memerkenalkan percetakan di Hindia Belanda dengan membeli sebuah mesin cetak dari Belanda untuk menerbitkan literatur Kristen dalam bahasa tempat, sehubungan dengan kebutuhan penginjilan. Melainkan mesin cetak itu menganggur, sebab tidak ada energi operator untuk melakukannya. Baru pada tahun 1659 (35 tahun kemudian), Kornelis Pijl mempelopori percetakan dengan memroduksi sebuah Tijtboek, yaitu sejenis almanak, atau “buku waktu”. 

Perjalanan Percetakan di Indonesia

Perkembangan percetakan di Indonesia erat sekali dengan sejarah perjalanan surat info. Berikut sebagian catatan waktu perjalanan percetakan di Indonesia. 

1667: Pemerintah sentra berinisiatif mendirikan percetakan dan mengorder alat cetak yang lebih bagus, termasuk matriks yang menyediakan bermacam macam huruf.

1677: Dokumen dengan kosa kata Belanda-Melayu pertama kali dicetak.

1693: Dokumen New Testament dicetak dalam bahasa Portugis.

1699: Pendeta Andreas Lambertus Loderus mengambiil alih Boeckdrucker der Edele Compagnie untuk di dayagunakan secara optimal. Banyak karya penting dalam bahasa Belanda, Melayu dan Latin lahir dari percetakannya, termasuk sebuah kamus Latin-Belanda-Melayu yang dibentuk oleh Loderus sendiri.

1718: Pemerintah sentra mendirikan percetakan sendiri di Kasteel Batavia (kasteel = benteng, Batavia ketika itu merupakan kota yang dikelilingi benteng) untuk kepentingan mencetak dokumen-dokumen legal 

1744: Surat info tercetak pertama bernama Batavia Nouvelles lahir dari Percetakan Benteng yang dikelola oleh Jan Erdman Jordens, tepatnya pada 8 Agustus 1744. Cuma terdiri dari selembar kertas berukuran folio, yang kedua halamannya masing-masing berisi 2 kolom. Isinya memuat maklumat pemerintah, iklan dan pengumuman lelang. Pembaca dapat mendapatkannya tiap-tiap Senin dari Jan Abel, perusahaan penjilidan milik Kompeni di Benteng. Sebuah sumber menceritakan, koran pada ketika itu ditulis tangan.

1761: Mulai dilegalkan tata tertib percetakan pertama yaitu “Reglement voor de Drukkerijen te Batavia” (Juni 1761) di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal A. van der Parra.

1776: Surat info Vendu Niews (VN) diterbitkan oleh L. Dominicus. Ini merupakan surat info pertama yang bersentuhan dengan orang Indonesia, tiga dasawarsa sesudah Bataviase Nouvelles mati. VN yakni media iklan mingguan, terutamanya mengenai informasi lelang, juga maklumat penjualan sejumlah perkebunan besar dan sebagian iklan perdagangan. Diketahui oleh masyarakat sebagai “soerat lelang”.

1785: Percetakan Kota dilarang keras mencetak apa saja tanpa izin sensor. Penyensoran mulai dilakukan di Hindia Belanda pada 1668.

1810: 15 Januari 1810 terbit edisi pertama mingguan legal pemerintah, Bataviasche Koloniale Courant yang diasuh oleh Profesor (Kehormatan) Ross, pendeta kelompok sosial Belanda di Batavia semenjak 1788. Isinya memuat juga iklan, mulai dari tali sepatu sampai budak belian. Penerbitan stop 2 Agustus 1811, persis seminggu sebelum Batavia jatuh ke tangan Inggris.

Perjalanan Percetakan di Indonesia

info pertama berbahasa Jawa terbit di Surakarta sekali seminggu, namanya Bromartani. Diterbitkan oleh perusahaan kongsi Belanda, Harteveldt & Co.

1910: Di Jakarta terbit surat info nasional yang pertama, Medan Prijaji.

1921-1922:Pabrik kertas pertama, N. V. Papier Fabriek Padalarang, dibangun di Padalarang dengan kapasitas produksi 9 ton per hari.

1939-1940:Pabrik kertas kedua dibangun di Jawa Timur, dekat tempat Letjes, Probolinggo, oleh pemilik pabrik yang sama dengan yang di Padalarang.

1949 : Di Jakarta cuma terdapat 2 mesin printing yang dimiliki oleh warga pribumi. Percetakan milik warga asing cuma berproduksi untuk kepentingannya saja.

1950 : Jumlah perusahaan percetakan nasional (milik pribumi) di Jakarta meningkat menjadi 23 buah. 24 lainnya dimiliki warga asing (Belanda), sementara 86 lagi dimiliki warga Tionghoa.

1951 : Dari data legal, terdapat 150 perusahaan percetakan di Jawa Timur (75 di Surabaya, 18di Malang, dan sisanya tersebar di tempat dan sekitarnya).

1953-1954 : Percetakan Negara melaksanakan proyek modernisasi percetakan yang ambisius dengan membeli sebuah mesin website-offset 4 warna.

1970-an : Industri percetakan di segala dunia berganti ke teknologi offset. Dua perusahaan percetakan Cina terbesar, Sin Po dan Keng Po membeli mesin cetak rotasi untuk koran yang konsisten diterapkan sampai 1970-an. Surat info Cahaya Kemauan (semenjak 1961) dan Arah (semenjak 1965) pernah mengaplikasikan fasilitas mesin printer ini sampai mereka mempunyai mesin cetak sendiri di tahun 1970-an.

1976 : Sebanyak 385 mesin cetak offset diimpor ke Indonesia.

: Teknologi computer to film (CTF) masuk ke Indonesia. Mulanya cuma percetakan-percetakan besar saja yang memilikinya. 1995, percetakan-percetakan menengah dan kecil mulai mengadopsi. Sampai tahun 1997, pemakaian CTF dapat dibilang telah merata.

2000 : Masuknya teknologi computer to plate (CTP) mulai menggeser CTF dan ikut serta berdampakpada menurunnya bisnis repro. Hingga kini kurang lebih terdapat 70 mesin CTP di Indonesia. Dahulu merek-merek yang tenar untuk mesin ini merupakan Heidelberg dan AGFA. Kini telah mulai banyak pemain baru, seperti Screen, Scitex dan Basys Print.

Perkembangan Percetakan di Indonesia

Perkembangan terakhir di Indonesia: Dikala ini percetakan besar di Indonesia telah mulai mengadopsi teknologi computer to press berupa direct imaging (mengaplikasikan master) dan computer to print (tanpa master) yang banyak mengaplikasikan teknologi mesin komputerisasi printing. Salah satu mesin cetak yang tenar di kelas ini merupakan HP Indigo. Pun percetakan-percetakan sekarang telah melengkapi peralatannya tak cuma untuk urusan pre-press, melainkan juga post press (pengerjaan finishing seperti cutting, binding, folding, stiching, embossing, dan lain-lain), sehingga percetakan menjadi bisnis one-berhenti service yang makin berkembang. 

Beginilah Awal Mula Munculnya Percetakan di Indonesia

Masih ingat dengan tulisan sebelumnya mengenai sejarah percetakan pertama di dunia? Saat itu, mesin cetak diinovasikan pertama kali oleh Johannes Gutenberg di Mainz, Jerman. Setelah Gutenberg, inovasi mesin cetak dilanjutkan oleh Johann Fust dan Peter Schöffer. Sejarah percetakan pada masa tersebut masih berkaitan dengan ranah keagamaan, khususnya Katolik. Pasalnya, Gutenberg saat itu menggunakan mesin cetak untuk mencetak alkitab, demi melunasi hutang-hutangnya.

Setelah perjalanan panjang di era Printing Press, alhasil mesin cetak dikenalkan pada berabad-abad lalu di Indonesia. Percetakan di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Belanda, guna menerbitkan literatur Kristen dalam bahasa daerah. Berbeda dengan zaman Gutenberg, perkembangan percetakan di Indonesia lebih berkaitan dengan perkembangan media, khususnya surat kabar dan dokumen pemerintahan.

Sejarah percetakan di Indonesia sudah muncul pada 1659. Dilansir dari Solusi Printing, Belanda tertarik mendirikan usaha percetakan, setelah munculnya barang cetak pertama, yaitu Almanak Tijdboek. Beberapa tahun setelah kemunculan Almanak Tijdboek, VOC Belanda membuat perjanjian kontrak dengan beberapa ahli penjilidan dari Amsterdam. Hal ini karena untuk memenuhi kebutuhan barang-barang VOC. Menariknya, VOC juga menjual alat cetak ke pihak penjilidan lho.

|| Baca Juga: Percetakan Brosur Murah dan Berkualitas di Cirebon

Di samping bekerja sama dengan pihak penjilidan di Amsterdam, rupanya Belanda juga pernah mencetak dokumen perjanjian pemerintahan di Indonesia. Dilansir dari Percetakanku, Hendrik Brant sempat mencetak dokumen pemerintahan, yaitu Perjanjian Bongaya antara Laksamana Cornelis Speelman dan Sultan Hasanuddin di Makasar pada 15 Maret 1668. Pada tahun yang sama, dia mendapatkan kontrak untuk mencetak sekaligus menjilid buku VOC.

Pada 1719, usaha percetakan swasta VOC pun dibangun di Indonesia, khususnya di Jakarta. Saat itulah, percetakan tersebut dinamai Castel Press. Tidak lama kemudian, VOC mendirikan usaha percetakan kembali untuk ketiga kalinya, pada pemerintahan Jenderal Gustaaf Williem Baron von Imhoff. Di tahun yang sama, mulai tercetak surat kabar pertama yang menggunakan bahasa Indonesia, serta diterbitkan secara mingguan.

 Namun, sayangnya surat kabar tersebut diberhentikan, karena dianggap berbahaya bagi VOC. Sehingga, banyak orang terus mempertanyakan sejarah percetakan di Indonesia sesungguhnya. Selama kedudukan Belanda atau VOC, beberapa surat kabar terus muncul dan berhenti. Entah itu dicetak dalam bahasa Belanda, Indonesia, atau Melayu. Namun, banyak yang mengatakan bahwa perintis percetakan di Negeri Katulistiwa dipelopori oleh R.M. Tirtoadiesoerjo. Seperti apa kontribusi Tirtoadiesoerjo? Nantikan di artikel selanjutnya!

Mengenal Sejarah Percetakan di Indonesia

Sebagian besar masyarakat mungkin tak menyangka, bahwa masuknya teknologi percetakan di Indonesia juga memiliki sejarah tersendiri. Dimana sejarah percetakan di Indonesia tersebut dimulai pada tahun 1659. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 1659 telah masuk barang percetakan pertama yang diberi nama Almanak Tijdboek. Diperkirakan sekitar abad ke-17 Nederland tertarik membuka usaha percetakan di Indonesia, yaitu Jakarta. Pada tahun 1619 DKI Jakarta sudah menjadi pusat pemerintahan pada zaman VOC.

Tak heran jika pada tahun 1668 VOC melakukan perjanjian kontrak dengan ahli penjilidan yang berasal dari Amsterdam. Diadakannya kontrak tersebut karena pihak penjilidan diminta oleh VOC untuk mencetak barang-barang yang dibutuhkan oleh VOC. Pada saat itu VOC juga menjual alat cetak kepada pihak penjilidan tersebut. Dua tahun kemudian VOC melakukan perjanjian kontrak dengan pihak lain yang memiliki keahlian dalam bidang percetakan dimana pada saat itu VOC juga memiliki pabrik pembuatan huruf.

Pencetak dan penerbit pertama tersebut kemudian membuka usaha di Jakarta dan berperan sebagai subkontraktor untuk kantor VOC setempat. Kemudian pada tahun 1677 pihak percetakan tersebut mencetak kamus bahan Belanda-Melayu, serta di tahun 1963 mencetak kitab perjanjian baru yang dibuat dalam bahasa Portugis atau disebut sebagai Asia Timur pada masa itu.

Meskipun di Jakarta pada masa itu sudah terdapat percetakan swasta tetapi VOC tetap mendirikan usaha percetakan pada tahun 1719. Percetakan tersebut diberi nama Castel Press. Kemudian percetakan VOC yang ketiga didirikan pada masa pemerintahan Jenderal Gustaaf Williem Baron Von Imhoff. Pada saat pemerintahan Gubernur Gustaaf inilah terbit surat kabar pertama dengan menggunakan bahasa Indonesia yang diterbitkan secara mingguan.

Karena dianggap membahayakan, VOC akhirnya menutup percetakan tersebut dan akhirnya ditutup pada tahun 1745. Pada sekitaran abad ke-18 masa dimana VOC mulai akan dibubarkan dan usaha percetakan swasta semakin berkembang menjadi usaha penerbitan. Mereka kemudian menerbitkan karya berupa puisi, almanak, surat kabar dan kamus. Tetapi cukup disayangkan ternyata penerbitan surat kabar tersebut harus ditutup kembali guna menjaga keamanan dan ketertiban di masa itu.

 Sejarah percetakan di Indonesia sejak saat ini masih menimbulkan tanda tanya sebetulnya siapa yang menjadi pelopor perkembangan sejarah percetakan di Indonesia, terutama kalangan pribumi. Sedangkan pada awalnya penerbitan surat kabar masyarakat pribumi yang berbahasa melayu dikelola secara gabungan oleh orang pribumi dan orang belanda.

Tetapi sejarah percetakan di Indonesia menganggap bahwa R.M Tirtoadisoerjo merupakan pelopor sekaligus perintis usaha percetakan yang di kalangan pribumi. Sebelumnya R.M Tirtoadisoerjo memiliki nama R.M Djokomono yang mendirikan toko buku, alat tulis serta toko alat tulis Jawa. Pada tahun 1904 beliau berhasil menerbitkan majalah lalu diikuti dengan penerbitan surat kabar di Bandung. Bahkan surat kabar tersebut pernah dicetak sebanyak 2000 eksemplar dan termasuk dalam jumlah yang besar di kala itu.

Pada tahun 1976 ada sebanyak 385 mesin cetak Offset didatangkan ke Indonesia. Dan perkembangan pesat dimulai pada tahun 1992 sampai 1997 dimana teknologi Computer To Film (CTF) mulai masuk ke Indonesia dimulai dari percetakan besar hingga sampai ke percetakan menengah dan kecil. Pada tahun 2000 penggunaan teknologi CTF mulai teralihkan perihal berkembangnya teknologi Computer To Plate (CTP) atau yang terkenal dengan merk Heidelberg, Screen, Scitex, Basys Print dan AGFA.

Perkembangan terkini percetakan di Indonesia tumbuh pesat dengan CTP dengan master dan tanpa master seperti salah satu yang terkenal adalah HP Indigo, fuji jet press 750S. Kemudian era 2007 keatas muncul berbagai peluang menjanjikan seperti Digital Printing, 3D Printing, dan Water Transfer Printing. Melalui penjelasan di atas, kini Anda bisa memperoleh informasi dan wawasan mengenai sejarah percetakan di Indonesia yang dimulai sejak zaman VOC sampai sekarang ini. Meskipun belum diketahui secara pasti dalam bentuk data valid, tetapi setidaknya dapat diketahui perjalanan perkembangan dunia percetakan yang dimulai dari kamus hingga sekarang ini.

 

 

©2018 Dexa Printing Bandung All right reserved   Developed by javwebnet